Peran Perubahan Tutupan Lahan dan Kontribusinya Terhadap Pemanasan Global di Kota Surabaya
Kata Kunci:
Perubahan Tutupan Lahan, Pemanasan Global, Kota SurabayaAbstrak
Perubahan tutupan lahan merupakan fenomena yang tidak terpisahkan dari perkembangan wilayah perkotaan, terutama di kota-kota besar yang mengalami pertumbuhan penduduk dan aktivitas ekonomi yang pesat. Kota Surabaya sebagai salah satu kota metropolitan di Indonesia menunjukkan dinamika perubahan tutupan lahan yang signifikan, ditandai dengan meningkatnya konversi lahan vegetasi dan ruang terbuka menjadi kawasan terbangun. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran perubahan tutupan lahan serta kontribusinya terhadap pemanasan global dan kondisi lingkungan perkotaan. Metode yang digunakan adalah pendekatan deskriptif kualitatif melalui studi pustaka dengan mengkaji berbagai literatur ilmiah yang relevan. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa perubahan tutupan lahan berpengaruh terhadap peningkatan suhu udara dan suhu permukaan melalui fenomena urban heat island, penurunan kualitas udara akibat berkurangnya vegetasi penyerap polutan, serta meningkatnya risiko banjir karena berkurangnya kemampuan infiltrasi tanah. Selain itu, perubahan ini juga berdampak pada penurunan keanekaragaman hayati akibat hilangnya habitat alami. Secara keseluruhan, perubahan tutupan lahan di Surabaya memberikan kontribusi terhadap pemanasan global baik pada skala lokal maupun global. Oleh karena itu, diperlukan upaya perencanaan tata ruang yang berkelanjutan dengan menyeimbangkan antara pembangunan dan pelestarian lingkungan guna meminimalkan dampak negatif terhadap lingkungan perkotaan.
Referensi
Andani, P. R., Sukmono, A., & Sasmito, B. (2018). Pengaruh perubahan tutupan lahan terhadap urban heat island dan kenyamanan termal. Jurnal Geodesi Universitas Diponegoro, 7(3). https://ejournal3.undip.ac.id/index.php/geodesi/article/view/21216
Darlina, Y., Sukmono, A., & Sasmito, B. (2018). Analisis fenomena urban heat island di Kota Semarang. Jurnal Geodesi Universitas Diponegoro, 7(3). https://ejournal3.undip.ac.id/index.php/geodesi/article/download/21223/19807
McKinney, M. L. (2002). Urbanization, biodiversity, and conservation. BioScience, 52(10), 883–890. https://doi.org/10.1641/0006-3568(2002)052[0883:UBAC]2.0.CO;2
Muzaky, H., & Jaelani, L. M. (2019). Analisis pengaruh tutupan lahan terhadap distribusi suhu permukaan: Kajian urban heat island di Jakarta, Bandung, dan Surabaya. Jurnal Teknik ITS, 8(2). https://repository.its.ac.id/64674/1/3517100005-Undergraduate_Thesis.pdf
Nowak, D. J., Crane, D. E., & Stevens, J. C. (2006). Air pollution removal by urban trees and shrubs in the United States. Urban Forestry & Urban Greening, 4(3–4), 115–123. https://doi.org/10.1016/j.ufug.2006.01.007
Oke, T. R. (1982). The energetic basis of the urban heat island. Quarterly Journal of the Royal Meteorological Society, 108(455), 1–24. https://doi.org/10.1002/qj.49710845502
Paul, M. J., & Meyer, J. L. (2001). Streams in the urban landscape. Annual Review of Ecology and Systematics, 32, 333–365. https://doi.org/10.1146/annurev.ecolsys.32.081501.114040
Putra, A. K., Sukmono, A., & Sasmito, B. (2018). Analisis hubungan perubahan tutupan lahan terhadap suhu permukaan terkait fenomena urban heat island menggunakan citra Landsat (Studi kasus: Kota Surakarta). Jurnal Geodesi Universitas Diponegoro, 7(3), 22–31. https://ejournal3.undip.ac.id/index.php/geodesi/article/view/21212
Seto, K. C., Güneralp, B., & Hutyra, L. R. (2012). Global forecasts of urban expansion to 2030 and direct impacts on biodiversity and carbon pools. Proceedings of the National Academy of Sciences, 109(40), 16083–16088. https://doi.org/10.1073/pnas.1211658109






